Jumat, 23 Oktober 2009



videoBercinta, dimanapun jadi. Posisi sekenanya juga masih terasa nikmat. Semakin aneh lokasi ngeseks nya, semakin nikmat rasanya. Berikut pengalamanku dengan Andrew, bercinta di pinggir kolam. Lanjut aja baca cerita dewasaku dibawah ini.

Andrew mengubah posisinya, kembali ke posisi semula. Duduk di tepi masih di dalam kolam, melebarkan tangannya mengajakku ke pangkuannya. Dibuka kakinya lebih lebar lagi. Diputar pantatku hingga membelakanginya. Kuikuti arahan tangannya. Perlahan diturunkan pinggangku sangat hati-hati.. bless..
“Agghh..” bersamaan kami mengerang. Penisnya masuk ke lubangku.

Andrew memeluku, mendekapku. Tak ada gerakan lain, yang kurasa ditekannya pinggulku lebih dalam. Wowww.. akhirnya.. kurasakan juga penisnya

Untuk sesaat, aku merasa asing dengan keadaan sekitar. Mendengar dengkur halus di sebelah, baru kusadar, jika sedang bersama Andrew. Perlahan aku menuju kamar mandi yang berada di kamarnya. Bersihkan tubuhku sekenanya.
“Lapar’ ujarku dalam hati.

Kutengok jam weker di sebelah tempat tidur, sudah jam 10 lewat. Kaos longgar kemarin sudah kotor. Karena tak ada pilihan kupakai saja handuk dari kamar mandi, tanpa bra dan CD. Aku menuju dapur. Kudapati beberapa roti isi di meja kecil. Menurut Andrew, ada bibi yang selalu mengurus rumah dari Senin hingga Jumat. Jadi makanan selalu tersedia. Sambil membawa segelas air jeruk dan roti, aku berjalan ke teras belakang rumah. Taman belakangnya tertata rapih. Kubuka pintu dan melihat sekitar. Mmm.. ada kolam kecil di pojok kanan. Kurasa bukan kolam ikan karena warna kolamnya seperti kolam biasa.

Aku duduk di teras sambil menikmati sarapan kecil. Kembali terbayang apa yg terjadi malam sebelumnya. Tanpa sadar, aku meraba-raba paha hingga ke pangkal. Hingga handukku tersingkap, memperlihatkan bulu-bulu halusku. Mmm..

“Oh.. di sini rupanya” suara di ambang pintu memecahkan keheningan.
“Hey.. pagi..” ujarku. Andrew duduk di sebelah dengan menggunakan celana pendek sambil menghisap rokoknya perlahan. Pasti cuma celana pendek aja deh.
“Pagi, non. Lagi ngapain?” liriknya ke tanganku di pangkal paha.
“Lagi asik sendiri” Aku hanya tersenyum lebar.
“Itu apa, Drew?” tanyaku sambil menunjuk ke kolam.
“Jacuzzi.”
“Oh..”
“Udah pernah belum duduk-duduk di jacuzzi?” tanyanya sambil menggigit roti dari genggaman tanganku kemudian diteguknya air jeruk dari gelasku.
“Belum” sahutku sambil menggeleng.
“Ya udah, kita basah-basahan aja di situ. Sekalian mandi” sahutnya ringan.
“Haa..? di luar?”
“Ketutup semua kok. Yuk..” sahutnya sambil bangkit dan berjalan menuju jacuzzi. Tidak lupa membawa asbak, rokok dan pemantiknya.

Aku melihat sekeliling. Memang benar, tertutup. Tidak ada rumah tetangga yang terlihat. Bagian belakang pun tertutup tembok tinggi. Hanya langit biru yg terlihat.
Andrew menekan salah satu tombol di tembok. Kemudian kulihat air di dalam kolam mulai bergelembung dan berbuih. Ditunggunya beberapa saat, mungkin menunggu temperatur yang tepat.. kemudian Andrew menaruh peralatan rokok di pinggir kolam dan membuka celana pendek.
“Bener kan, ga pake CD” ujarku dalam hati sambil tersenyum.

Sementara Andrew sudah duduk di dalam, aku berjalan mendekat. Hmm.. keliatannya asik juga. Kolamnya ngga terlalu kecil, mungkin cukup untuk 6 orang. Pinggirannya dibuat sedemikian rupa hingga bisa digunakan untuk duduk Gelembung air keluar dari sisi dan dasar kolam. Kulihat tubuh telanjang Andrew, di antara gelembung air. Kumasukkan kaki ke air, penasaran.
“Mmm..hangat.” Kok ada sih yg mau punya jacuzzi di kota sepanas ini.
“Ngga kepanasan, Drew?”
“Ngga kok. Ini kan untuk relax. Ayo sini masuk.”

Yakin akan ucapannya, kutanggalkan handukku. Kulempar begitu saja ke rerumputan di sekitar kolam. Kutahu kalau mata Andrew mengikuti gerakanku. Tentu saja kunikmati diperhatikan begitu. Aku duduk di pinggir kolam. Kakiku masuk di air hangat dan badanku yang telanjang di luar. Sengaja aku agak berlama-lama di luar. Biar dia lebih puas memperhatikan tubuh telanjangku. Kuambil sedikit air dan kusiram perlahan ke paha. Ambil lagi sedikit kusiram di antara bulu-bulu halusku.. wahh.. anget..
Puas melihat Andrew semakin gerah.. perlahan kumasuki jacuzzi. Rasa hangat mulai menjalar ke tubuh. Aku duduk di sebelah Andrew. Kurasa airnya hanya sebatas bawah lipatan dada. Hanya karena bergelembung terus, kadang menutupi juga.

“Wow..” ujarku kemudian
“Gimana.. enak kan” di tengah hembusan rokoknya
“Iya” Kusandarkan tubuhku. Asik juga.
Tangan kanan Andrew kurasakan mngusap-usap pahaku. Sedikit menggosok lubangku juga.
“Coba deh taruh punggung kamu di dekat situ” Andrew menunjuk sisi yang mengeluarkan banyak gelembung. Kuikuti sarannya, bergerak perlahan ke kanan. Hati-hati kusandarkan punggung.
“Wahh..” benar-benar enak. Dorongan gelembung kurasakan seperti pijatan di punggung. Membuat dadaku terdorong ke depan dan menonjolkan buah dada ke atas permukaan air.
“Uhh.. nice..” seruku.

Andrew menghembuskan asap rokoknya panjang, matanya tak lepas dari dadaku. Aku hanya tersenyum menatapnya. Tak berapa lama, rokoknya dimatikan dan mendekati.
“You look so gorgeous” tangannya mengusap-usap buah dadaku. Aku yang masih menikmati pijatan di punggung, agak kelimpungan menerima usapannya.

“Mmmhh.. that’s nice too..” erangku tertahan.
Sambil berlutut di kolam, Andrew menundukkan tubuh dan mulai mencium dadaku. Menjilat puting dan menggigitnya perlahan.
“Hmm.. enak banget, Drew” aku menatapnya dg pandangan birahi sambil menjilat bibir bawahku.
“Want more?” tanyanya
“Iyah..” ujarku tertahan, seirama gigitan kecilnya di puting. Kuusap-usap kepalanya.

Tangannya meremas halus dadaku sementara lidahnya tak henti-henti menjilat. Tangannya yg lain kurasakan mengusap pahaku. Kugeserkan badanku sedikit menjauh dari dorongan air. Kalau tidak, mungkin aku tidak bisa menjaga keseimbangan. Kuletakkan kedua tangan di pinggir kolam dan menengadahkan kepala keenakan.
“Drew, enak banget” ujarku tertahan. Sungguh nikmat rasanya, apalagi di alam terbuka. Angin sepoi memberikan sensasi tersendiri.

Andrew semakin mempererat remasannya. Jarinya pun kurasakan sudah bermain di lubang vaginaku.
“Agghh..” kurasakan tusukan jarinya begitu nikmat. Gerakannya pun hanya perlahan, seakan sangat menikmati apa yg sedang dilakukannya.
“Din.. I wanna fuck you” bisiknya di sela-sela.
“Pleasee..” bisikku tertahan di belantara kenikmatan.
Tusukan jarinya berubah menjadi cepat. Bahkan semakin cepat, menandakan birahinya pun mulai menanjak. Aku semakin tak bisa menjaga keseimbangan tubuhku. Mengerang keenakan. Nafas Andrew pun terdengar semakin beringas. Semakin menambah gairahku. Semakin kubuka lebar kedua kakiku. Kecupannya naik ke leher. Mencari-cari bibirku yang tak henti mengerang. Diciumnya dengan nafsu. Lidahnya liar mencari lidahku. Hingga aku sukar bernafas.
“Fuck me, Drew” bisikku tak tahan lagi.

Andrew mengubah posisinya, kembali ke posisi semula. Duduk di tepi masih di dalam kolam, melebarkan tangannya mengajakku ke pangkuannya. Dibuka kakinya lebih lebar lagi. Diputar pantatku hingga membelakanginya. Kuikuti arahan tangannya. Perlahan diturunkan pinggangku sangat hati-hati.. bless..
“Agghh..” bersamaan kami mengerang. Penisnya masuk ke lubangku.

Andrew memeluku, mendekapku. Tak ada gerakan lain, yang kurasa ditekannya pinggulku lebih dalam. Wowww.. akhirnya.. kurasakan juga penisnya. Digigitnya halus punggungku. Sementara suara gelembung-gelembung buih terus menderu. Tak peduli. Kemudian diangkatnya pinggangku perlahan, sungguh mengasyikkan, merasakan gerakan penis yg perlahan. Cengkramannya yg kuat dan kokoh membuat posisiku tak bergeming.

“Aggh..” diletakkannya lagi perlahan.. dilakukannya beberapa kali, naik dan turun perlahan.. perlahan.. hingga gerakannya semakin cepat. Cipratan airpun kurasakan di sela-sela benturan. Kuikuti gerakan tangannya yang mengangkat dan menurunkan pinggangku. Tiap kali diturunkan, kutekan lebih dalam. Ingin kurasakan seluruh penisnya masuk lebih dalam.
“Andrew..” tubuhku bergerak cepat seirama gerakan tangannya. Kugigit bibirku menahan gelora. Kuremas-remas buah dadaku, mengalirkan birahi.
“Ya sayang..”

keceprat ..keceprot.. prat.. prot.. bunyi air ikut memanaskan suasana.
Semakin cepat, semakin menaikkan birahi. Tangannya kemudian lepas dari pinggang mengambil kedua tanganku, membiarkan aku mengontrol. Kutekan telapak tangannya sebagai pijakan. Kini aku bisa menekan-nekan penisnya lebih dalam.

“Agghh.. Din.. enak..” erangnya.
Kugenjot tubuhku. Kuputar-putar pinggulku, menambah erangannya semakin keras. Kocok.. putar.. kocok.. putar.. gerakanku berirama. Keringatpun mulai membasahi muka dan tubuh, tak tahu apakah dari panasnya air ataukah dari panasnya birahi.

“Din.. ganti lagi yuk..” Andrew mendorongku perlahan berdiri tanpa mengeluarkan penisnya. Dibawanya aku ke posisi doggy style, masih di dalam kolam. Lebih mudah baginya. Tanganku bersandar di pinggiran agak menunduk. Andrew membuka lebih lebar kakiku. Bagian belakangku terbentang di hadapannya. Perlahan lagi Andrew mulai menghujam penisnya. Mendorong lebih dalam.
“Agghh.. ” aku terlena kembali.

Kedua tangannya memegang erat pinggangku. Hujamannya terasa nikmat. Mengehentakkan kembali birahi. Tiap kali Andrew mendorong penisnya, kudorong pantatku ke belakang. Eranganku pun semakin menjadi. Andrew mulai lagi dengan kejutannya. Tangan kirinya kurasa menahan perutku, tangan kanannya bermain-main di pantatku. Mengusap-usap. Meremas rakus. Hingga kemudian jarinya kurasa menuju lubang anusku. Diputar-putar sekeliling lubang. Aku ingin protes tapi genjotan di vaginaku semakin membuatku terbuai. Tak ingin kehilangan kenikmatan yang ada.

Andrew semakin terbawa gairahnya, kurasakan jarinya yang basah mulai menusuk-nusuk anusku. Semakin lama semakin dalam. Aku tersentak sesaat. Jarinya terhenti di dalam, tak bergerak lagi. Menanti apa reaksiku. Yang kurasakan.. aneh. Sensasi yang tak terungkapkan. Aneh tapi aku menikmatinya. Jarinya mulai bergerak lagi. Lebih dalam dan semakin dalam. Kemudian bukan hanya masuk, tapi juga dikeluarmasukkan. Dan iramanyapun berubah. Kali ini lebih cepat. Seirama sodokannya di vaginaku. Bahkan kurasa bukan hanya satu jari, bertambah menjadi dua. Aku semakin menggelinjang menerima 2 sensasi. Jari kirinya pun berpindah dari perut ke klitorisku. Mengusap-usap nakal. Birahiku pun semakin tak karuan begulat hendak meledak. Andrew semakin menambah kecepatan. Semakin beringas. Semakin tak terkendali.

“Andrew..aku hampirr..”
“Me too..”
Andrew memompaku lebih cepat, lebih garang. Nafas nafsunya pun semakin menjadi-jadi. Suara benturan kulit kamipun lebih terdengar. Suasana semakin panas. Semakin penuh dengan gairah birahi. Terbang ke puncak yg sangat panas dan membara.

“Andrew.. aghh..” akhirnya ledakan nafsuku pun tak terbendung. Bersamaan dengan meracaunya tusukan di anusku. Carianku membanjiri lubang vagina.
“Agghh..I’m cuming..” dicabut penisnya. Diarahkannya ke pinggiran kolam. Tubuhnya terdorong seirama semprotan mani. Wowww..

Sementara aku terduduk lunglai di pinggiran kolam. Mengatur napasku. Rasa nikmat memenuhi pikiranku. Nikmat, nikmat sekali. Kemudian kuraih penisnya. Kujilat dan kubersihkan bekas-bekas mani di sekeliling penis.
Ahh.. berbasah-basah di pagi hari. Di udara segar lagi. Sungguh mengasikkan.

Perlahan kami duduk kembali. Berdampingan. Kupandang Andrew yang bersandar dan masih terbawa kenikmatan.
“That was great” tangannya mengusap pipiku perlahan dan menuju bibirku.

Kucium halus jari-jarinya. “Yah..it was” ujarku tersenyum. Kupegang tangannya. “Nakal ya, masuk-masuk ke anus” ujarku lagi sambil memukul halus jari-jarinya.
“Tapi suka kan..” senyumannya sambil mencium pipiku.
Aku mengiyakan malu.

Masih kurasakan sensasi baru di lubang anusku. Bahkan sensasi nikmat di lubang vaginaku pun masih tersisa. Tubuhku masih sedikit bergelinjang. Keenakan.
Aku bersandar. Kuselonjorkan badanku hingga airnya menutupi sampai ke pundak. Mmm.. nikmatnya lebih terasa. Sesaat kemudian, yang ada hanyalah suara burung berkicau, buih-buih air yang berkelanjutan dan hampir saja aku tertidur. Benar-benar rileks. Kututup mataku menikmati.

Entah berapa lama aku terhanyut. Mungkin lebih dari 1/2 jam. Lupa akan sekeliling. Kubuka mata, ternyata, Andrew sedang menatapku sambil menghisap rokoknya. Aku ga dengar dia menyalakan rokoknya tadi.
“Hi sweetie..”
“Hi.. Kok ngga bangunin, Drew?”
“Why? you look so relax”
“Aku haus..” sambil menegakkan dudukku.
“Aku ambilkan air ya” ujarnya sambil beranjak. Kupandangi tubuh telanjangnya keluar kolam, mengambil celana pendeknya dan menghilang di balik pintu. Aku juga ingin keluar. Sudah terlalu lama berendam. Ujung-ujung jariku sudah mulai mengeriput. Aku beranjak keluar menuju handukku di rerumputan. Brr.. beda temperatur di dalam dan di luar kolam, menerpa tubuhku. Kulap badanku, rambutku, hingga kering. Kukenakan kembali handuk dan berjalan menuju ke dalam rumah.

“Udahan?” tanya Andrew yang sedang berjalan menuju ke pintu.
“Iyah, lama-lama di air ga enak juga”
“Duduk di sofa yuk. Aku ambil kimono dulu” mungkin dilihatnya tubuhku agak menggigil. Andrew menghilang ke kamar dan aku jatuhkan diri di sofa empuk. Andrew muncul lagi dengan berkimono dan memberikan satu kimono lagi untukku. Agak kebesaran, tapi lumayan menghangatkan badan.

Kami duduk santai sambil ngobrol ringan. Beberapa potong roti dari meja dapurpun ikut menemani.
“Drew..mm..biasa anal ya?” akhirnya keluar juga pertanyaan itu. Sudah mengganjal dari tadi.
Andrew hanya tersenyum. “Kamu belum pernah?”
“Itu tadi yang pertama kali”
“Trus??” tanyanya ingin tahu
Aku hanya tersenyum. “Enak kan..?” lanjutnya kemudian.
“Ingin rasa yang beneran?” sambungnya lagi.
Aku terbelalak. “Beneran? Pake itu kamu? Ngga ah.. takut” aku menggeleng.
“Coba aja dulu.. ” ujarnya santai. “Coba dulu pake dildo..” matanya menyelidik.
“Ihh..” tanpa sadar aku mencubit lengannya
“Auhh.. kok nyubit” ujarnya mengelus-elus bekas cubitan
“Abis kamu ada-ada aja sih”

Andrew sangat tahu bagaimana mewujudkan keinginannya. Siang itu kami terbuai lagi dengan panasnya birahi. Kali ini di sofanya yang empuk. Dari kecupan hangat, hingga liar, membara dan akhirnya.. dildo pun masuk ke lubang anusku. Bahkan penisnya. Sungguh pengalaman yang fantastis.. tak bisa kuungkapkan. Nikmat, sungguh nikmat.

Ingin kuceritakan lebih panjang, lebih mendetail. Tapi membayangkannya kembali, bikin aku kepingin lagi. Jadi sukar untuk menulis. Pembaca cukup membayangkan sendiri aja, ya. Pokoknya anal itu enak dehh..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar